Gunung Sitoli-Sumutpro.com |Kepulauan Nias kembali diguncang krisis berlapis. Sudah hampir satu minggu—sejak 25 November—jaringan internet di seluruh wilayah Nias mati total tanpa penjelasan resmi. Di saat yang sama, harga bahan pokok meroket hingga mencapai angka yang tak masuk akal, mencekik ekonomi masyarakat yang semakin terpuruk,Minggu 30/11/2025.
Dari pantauan awak media Sumutpro.com di salah satu pasar tradisional Kota Gunungsitoli, situasi terlihat semakin kacau. Sejumlah komoditas penting seperti cabai, telur, ikan segar, dan ayam broiler mulai langka di pasaran. Kelangkaan ini ikut memicu lonjakan harga yang ekstrem.
Salah satu warga yang ditemui saat berbelanja mengungkapkan bahwa kenaikan harga ini mulai terasa sejak Kamis lalu.
“Sebelumnya harga cabai rawit cuma Rp40.000 per kilogram. Sekarang sudah tembus Rp250.000. Telur juga hampir tidak bisa didapat. Harga satu papan isi 30 butir sekarang Rp150.000,” ujarnya dengan nada kesal.
Para pedagang yang ditemui di lokasi mengaku kesulitan memperoleh pasokan dari luar daerah.
Menurut mereka, distribusi bahan pokok dari Sibolga terhenti akibat bencana alam yang terjadi di daratan Sumatera, sehingga suplai ke Kepulauan Nias terganggu total.
Krisis ini semakin menyulitkan masyarakat yang sebelumnya sudah tertekan oleh kondisi ekonomi yang tidak stabil. Beberapa warga menilai pemerintah kota Gunungsitoli lambat merespons dan seolah menutup mata terhadap penderitaan rakyat.
“Kami bukan minta banyak, tapi pemerintah jangan diam saja. Tolong sidak ke pasar, cari solusi. Harga ini sudah tidak masuk akal. Kami yang jadi korban,” ungkap seorang warga yang enggan disebutkan namanya.
Hingga berita ini ditayangkan, tidak ada satu pun tanggapan resmi dari Pemerintah Kota Gunungsitoli terkait dua krisis besar yang sedang menjerat masyarakat: matinya jaringan internet dan melambungnya harga bahan pokok.
Tim Sumutpro.com masih terus berupaya meminta pernyataan resmi dari pemerintah demi pemberitaan yang berimbang.(AHZ)







