Gunungsitoli – 9 Mei 2026 Media sosial di ramaikan dengan Komentar seorang Politisi di kota Gunungsitoli, di sebuah Postingan media Sosial Pemerintah Kota Gunungsitoli beberapa waktu lalu.
Pernyataan “Mari kita para intelektual ciptakan peluang dan jangan jadi beban pemerintah” terdengar sederhana dan motivatif. Namun dalam perspektif pembangunan, kalimat itu perlu diluruskan agar tidak terjebak pada logika yang salah.
Dr. H.C, Yusman Dawolo, M.Kom.I, tokoh masyarakat Nias yang tinggal di Jakarta, biasa di panggil Bang YD, memberi tanggapan.
“Daerah yang peradabannya maju adalah mereka yang mampu menghargai dan merawat intelektualitas, ilmuan, akademisi, peneliti, pemimpin visoner dan menjadikan gagasan sebagai energi utama kemajuan. Bukan ilmuwan dibungkam, dicurigai sebagai ancaman, terlebih dianggap sebagai beban pemerintah.” Kata Bang YD
Bahkan bangsa-bangsa didunia, mereka maju karena menghormati ilmuan, memberi ruang kepada pemikiran kritis, dan menjadikan kaum intelektual sebagai arsitek masa depan daerah atau negara. Mereka tidak anti intelektual.
“Amerika Serikat menjadi negara paling maju didunia karena para intelektual, kekuatan universitas, riset, teknologi, dan keberanian para pemikirnya melahirkan inovasi. Jepang bangkit dari kehancuran setelah perang dunia ke II melalui para intelektual. Korea Selatan berubah dari negara miskin menjadi kekuatan industri karena negara menempatkan pendidikan dan intelektual sebagai fondasi utama pembangunan.” Kata Bang YD
Karena itu, intelektual bukan “beban pemerintah”. Justru pemerintah yang lemah biasanya takut pada intelektual, sebab intelektual menghadirkan kritik, koreksi, data, dan kesadaran publik.
“Dalam demokratis, kaum intelektual berfungsi sebagai penjaga akal sehat. Mereka bukan sekadar pencari pekerjaan, melainkan penghasil gagasan, pengawal moral publik, pengoreksi arah kebijakan, dan pencipta peradaban.” Tambah Bang YD
Pemerintah dan intelektual harus berjalan bersama, karena adanya para ilmuwan akan melahirkan inovasi tanpa batas, memberi harapan, dan bisa menjadi pedoman bagi pemerintah untuk mewujudkan keadukan dan kesejahteraan rakyat.
“Pemerintah wajib menciptakan ruang ekonomi, kebijakan, pendidikan, dan iklim meritokrasi yang sehat, sementara kaum intelektual menghadirkan solusi, inovasi, dan keberanian berpikir jauh ke depan demi untuk kemajuan dan kesejahteraan rakyat.” Tutup Bang YD
MZ







