Persalinan Bayi di Puskesmas Binanga Diviralkan, Begini Kronologi Medis Kejadiannya…
Rabu 22/07/2026
Binanga Palas Sumut
Sumut pro.com
Foto: Pasien ibu bersalin saat diproses bersalin di Puskesmas Binanga.
Persalinan bayi kedua pasangan Khoiruman Pasaribu-Anggina Sari Harahap di Puskesmas Binanga Kecamatan Barumun Tengah jadi sorotan. Proses persalinan yang dianggap pihak keluarga ada yang janggal, hingga kabar ini diviralkan di media sosial.
Dari keterangan pihak Puskesmas yang dihimpun Harian Sumut pro rabu (22/07/2026) awalnya Pasien Ny Anggiena Sari Harahap masuk ke ruang bersalin Puskesmas Binanga pada tanggal 05 Juli 2026 dengan G2P1A0+ KDR (41-42 Minggu) Posdate + Inpartu dengan HPHT:?/09/2025, TTP : ?/062026.
Sebelum pasien ditangani terlebih dahulu bidan melakukan anamnesa (Riwayat persalinan terdahulu Normal di tolong bidan), kemudian pemeriksaan Fundus Uteri 39 cm, Pemeriksaan Fisik berupa Vital Sign ibu 120-80 mmHg, DJJ Bayi: 138 x/1, His: 2-3 x/ 10 menit teratur dan sering (+), Pemeriksaan leofod 1 (letak bokong), Leofod 2 (punggung kiri) leofod 3 (kepala janin), leofod 4 (divergen kepala masuk panggung/PAP).
Kemudian dilakukan informat Consent terhadap keluarga pasien, dan dilakukan pemasangan infus melalui intra vena sambil memantau perkembangan persalinan ibu. Lalu kemudian dilakukan pemeriksaan dalam berupa VT (Vaginal Toucher), ditemukan pembukaan sudah lengkap.
Dan tidak lama setelah itu, pecah ketuban dengan warna air ketuban kehijauan dengan kondisi kepala bayi sudah didepan vulva vagina/di bawah. Bidan pun melakukan pimpinan persalinan terhadap ibu. Disitu ibu diajari bagaimana cara mengedan yang baik atau melakukan pimpinan persalinan sesuai APN (Asuhan Persalinan Normal). Disaat proses persalinan, bayi ini mengalami distosia bahu/kemacetan bahu, dimana distosia bahu adalah kondisi kegawatdaruratan medis/bahu bayi tersangkut pada jalan lahir dan tidak dapat keluar dengan traksi biasa. “Distosia bahu merupakan situasi kritis yang mengancam nyawa janin akibat risiko asfiksia berat (kematian akibat kekurangan oksigen) dalam hitungan menit,” tulis keterangan Puskesmas yang dipimpin Anneka Sari Siregar, SKM tersebut.
Disituasi itu, bidan penolong dihadapkan harus memilih antara nyawa ibu dan bayi. Bidan juga memberitahukan kepada keluarga pasien bahwa ada kesulitan persalinan dan beberapa risiko yang akan terjadi kepada bayi, karena bayi mengalami distosia bahu.
“Dan dijelaskan masalah tersebut kepada keluarga pasien. Keluarga pun mengetahui kondisi bayi tersebut dan menyerahkan sepenuhnya kepada petugas/bidan agar segera membantu persalinan secara normal,” sebut pihak Puskesmas yang ditangani Bidan Risna Sari Harahap, SKeb, dan Arjuni Khoiriyah Harahap, AmKeb tersebut.
Setelah bayi lahir, juga bayi ditemui tidak menangis, tidak ada lilitan tali pusat. Lalu petugas memberikan penanganan emergency terhadap bayi baru lahir sesuai prosedur, berupa RJP. Tidak lama kemudian bayi pun menangis kuat, dan bidan segera memasang O2 1 liter. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan fisik terhadap bayi yang baru lahir.
Saat itu ditemukan tangan kanan pergerakannya terbatas. Bidan pun segera menelpon dokter penanggungjawab untuk melihat kondisi bayi tersebut. Dokter penanggung jawab datang melihat kondisi medis bayi. Pada pemeriksaan dijumpai lengan kanan atas bayi pergerakannya terbatas dan di teraba krepitasi (+), bengkak pada ektremitas atas (-).
Dokter menjelaskan kondisi bayi tersebut kepada keluarga, bahwa dicurigai adanya close fraktur 1/3 distal os humerus dextra (Patah Tulang tertutup di lengan kanan).
“Persalinan normal dengan kasus bayi distosio bahu resikonya pasti ada, sebab pasien datang ke Puskesmas dalam kondisi pembukaan sudah lengkap jika tidak ditolong bayi bisa exit dan ditolong risiko medis pasti ada terhadap bayi,” terang dr Ami Marlinda Ritonga pada keterangan tertulis itu.
(WPS)











